Fenomena social media atau media sosial sungguh menarik dibicarakan saat ini. Perkembangan media sosial sudah tidak dapat dibendung. Pertumbuhan data pengguna social media seperti Facebook (FB), Twitter, dan Myspace di Indonesia sangat fenomenal. Khusus FB saja, per 5 April 2010 tercatat sekitar 21,5 juta akun yang berasal dari Indonesia. Indonesia menempati posisi ketiga di bawah AS dan Inggris. Sedangkan, Twitter sudah menembus angka 5 juta akun lebih. Indonesia juga menduduki jumlah pengguna Twitter terbesar di Asia. Jakarta ibukota negara Indonesia bahkan telah diklaim sebagai ibukota Tweet di Asia, bukan karena jumlah penggunanya tetapi juga kontribusi trending topic di Twitter dari Indonesia.
Media yang Membawa Kita atau Kita yang Membawa Media
oleh Epson Ray Kinko
Pernahkah kita memikirkan bagaimana hidup manusia berubah sedikit demi sedikit akibat dari adanya media yang berkembang pesat? Pemanfaatan media baru/ teknologi adalah penting untuk masyarakat, terlebih di negara yang sedang berkembang. Walaupun begitu, seiring dengan berkembangnya teknologi dalam masyarakat, banyak sisi baik dan buruk yang dapat muncul dari kemajuannya. Imbas dari perkembangan media itu sendiri tidak muncul secara tiba–tiba di depan kita. Dia muncul perlahan-lahan sehingga kita pun tidak dapat langsung menolak atau menerima media–media yang muncul.
Reinkarnasi Media Seni dan Internet
oleh Farhani Kautsar Nugraha
John Lennon, seorang tokoh dunia, musisi, penulis, sekaligus aktivis perdamaian. Anggota sekaligus pendiri grup band The Beatles ini, mulai memberi pengaruh mengenai perdamaian dan aksi-aksi sosial saat sudah mulai bersolo karier. Sekitar dua juta orang Vietnam meninggal saat konflik perang Vietnam. Banyak yang memprotes perang ini. Vietnam bukanlah perang yang mudah diterima masyarakat, karena tak ada tujuan yang nyata disana. Tidak menunjukkan kehidupan, kebebasan, dan kebahagiaan. Saat itu protes semakin meluas dipimpin oleh anak-anak muda dan protes ini meluas dimana-mana. Protes terakhir di London, ribuan warga menolak Inggris memberikan bantuan untuk aksi Amerika Serikat di Vietnam. Ketika situsi seperti ini, John Lennon mulai turut campur berhubungan dengan dunia dan dia merubah dunia.
Dua wajah jejaring sosial
oleh Fuad Hasan
“Siang malam ku selalu menatap layar terpaku, aku online... online.. aku online.. online,”. Pernahkah anda mendengarkan kutipan lirik tersebut? Itu adalah syair lagu “Online” yang dinyanyikan Saykoji, yang bercerita ketergantungan anak muda sekarang dengan dunia maya.
Korban teknologi, begitulah orang menyebut anak muda jaman sekarang. Hampir semua remaja di Indonesia mempunyai akun-akun jejaring sosial. Entah itu di friendster, facebook, myspace, twitter hingga yang terbaru, google+. Jejaring sosial pun mulai merasuki gaya hidup dewasa ini.
Sosial Media Jawaban Bagi Pers Mahasiswa
oleh Happy Ari Satyani
Media sebagai sarana komunikasi masyarakat mengambil peranan yang besar dalam tatanan suatu Negara. Bahkan perjuangan bangsa Indonesia tidak luput dari peran media. Perjuangan bangsa ini dikawal oleh media yang digawangi oleh generasi Muda, khususnya mahasiswa. Pers mahasiswa (Persma) diyakini sebagai ujung tombak perkembangan media di negeri Ini. Pers mahasiswa telah mengambil peran sebagai control social sejak jaman penjajahan. Sejak jaman perjuangan peran pers mahasiswa memang mengalami mengalami gelombang fluktuasi dan pasang surut. Masa kemenangan pers mahasiswa dipercayai ketika jaman perjuangan melawan penjajahan Belanda hingga era-1998 an. Setelah masa kemenangan berakhir media di dominasi oleh media arus utama, dan pers mahasiswa hanya berperan sebagai media alternative.
Dear Generasi Muda, Saatnya Meniti Kesuksesan lewat New Media!
oleh Grandika Septia Primadani
“ Sekarang tidak harus belajar lama untuk kemudian sukses. Yang penting kita konsisten berekspresi dengan apa yang kita sukai dalam media sosial “ (Raditya Dika)
Di zaman serba digital seperti sekarang, siapa anak muda yang tidak mengenal istilah internet, smartphone, ataupun piranti teknologi modern lainnya? Jika kalian adalah salah satu diantaranya, bisa jadi kalian adalah anak muda yang hidup di dalam peradaban digital, namun dibelenggu oleh dogma tradisional.
Kemudahan akses dan harga perangkat elektronik yang semakin terjangkau membuat semua kalangan mampu menjangkaunya, tak terkecuali anak muda. Smartphone yang dianggap sebagai barang mewah, kini sebagian kalangan justru menganggapnya sebagai barang wajib. Tak perlu khawatir dengan harga, cukup dengan merogoh kocek sebesar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta, smartphone sudah berada di genggaman mereka.
Penggunaan Social Media secara Efektif bagi Generasi Muda
oleh Khalil Ibrahim
Manusia merupakan mahluk sosial. Saya sangat hafal akan hal ini, karena ini adalah materi pelajaran PPKn ketika saya duduk di bangku Sekolah Dasar. Kurang lebih artinya bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Karena itu, manusia dituntut untuk saling berkomunikasi, berinteraksi, berbagi informasi, dan berkolaborasi satu sama lain.
Zaman semakin berkembang dimana teknologi informatika dan internet berhasil menyulap kita, generasi muda, menjadi sosok mahluk sosial yang berbeda. Sekarang kita bisa dengan mudah berinteraksi dengan orang lain secara online tanpa harus bertatap muka, melalui situs-situs yang dikenal dengan istilah Social Media.
ETIKA PARA NETIZEN
oleh Lukman Hakim Husna
Ia duduk di sana beberapa saat sebelum peristiwa itu. Terpacak di depan kotak gelas berukuran empat belas inchi, di sebuah warung internet di seputaran kota Solo, ia terlihat gusar. Layar monitor di hadapannya menyuguhkan rerupa menu maya. Konon, sebelum detik yang telah ditentukan, ia sempat membuka beberapa alamat web. Diantaranya laman balapan motor dan –tentu saja– sebuah situs keagamaan tertentu yang diduga telah menyuguhkan suntikan-suntikan ideologis; sentimen yang membabi buta terhadap apa yang mereka sebut sebagai kafir.
Ia duduk di sana beberapa saat sebelum peristiwa itu. Terpacak di depan kotak gelas berukuran empat belas inchi, di sebuah warung internet di seputaran kota Solo, ia terlihat gusar. Layar monitor di hadapannya menyuguhkan rerupa menu maya. Konon, sebelum detik yang telah ditentukan, ia sempat membuka beberapa alamat web. Diantaranya laman balapan motor dan –tentu saja– sebuah situs keagamaan tertentu yang diduga telah menyuguhkan suntikan-suntikan ideologis; sentimen yang membabi buta terhadap apa yang mereka sebut sebagai kafir.
Dunia Maya, Paradigma Baru Menggalang Aksi Sosial
oleh Muhammad Faisal Harahap
Kalau kita cermati hingga tahun 2011 ini, pengguna internet di Indonesia dalam waktu yang relatif singkat langsung meledak pertumbuhannya. Data yang dirilis Kementerian Komunikasi dan Informatika baru-baru ini menunjukkan bahwa jumlah penggunanya sudah mencapai 45 juta orang. Angka ini sudah termasuk pengguna melalui internet mobile (handphone) dan personal computer (PC). Padahal, pada tahun 1999 jumlah pengguna internet di Indonesia masih ada di angka 1 juta orang. Sungguh, meningkatnya jumlah pengguna internet ini selayaknya patut menjadi perhatian bagi rakyat Indonesia yang berjumlah 240 juta jiwa. Kenapa tidak? Internet dengan pelbagai perangkat dan kecanggihannya-disadari atau tidak telah menjadi media baru dalam penyampaian pesan, gagasan, atau informasi yang ditujukan kepada orang banyak (massa).
Netizen, New Media dan Gerakan Sosial Menolak Kebisuan
oleh Muhamad Ismaiel
Kerja jurnalistik, kadang menyimpan paradoks dalam dirinya. Sekalipun pandai menangkap realitas, kerja jurnalistik selalu saja tak kuasa menyembunyikan fakta. Lewat Wikileaks—sebuah lembaga layanan publik yang dirancang untuk membocorkan dokumen rahasia atau kawat diplomatik—kita dapat menemukan kondisi seperti itu. Setelah ribuan dokumen rahasia Amerika terkait dengan perang Afganistan dan Irak berhasil dibocorkan oleh Wikileaks, dunia tiba-tiba menjadi paham tentang duduk persoalan sebenarnya. Bahwa, betapa politik yang dijalankan Amerika begitu sangat kotor, jauh dari kejujuran. Sementara itu, banyak media arus utama tak pernah memberikan informasi yang lengkap dan benar. Sehingga masyarakat dunia selama ini hidup di tengah kebohongan cukup lama.
Agent of Change 2.0
oleh M. Misbahul Ulum
Manusia terlahir sebagai makhluk sosial. Oleh sebab itulah, komunikasi menjadi kebutuhan mutlak bagi mereka. Komunikasi mengukuhkan jati diri individu sekaligus sosial manusia. Peradaban mereka telah dibentuk oleh proses komunikasi panjang yang melibatkan perihal internal dan eksternal manusia.
Manusia terlahir sebagai makhluk sosial. Oleh sebab itulah, komunikasi menjadi kebutuhan mutlak bagi mereka. Komunikasi mengukuhkan jati diri individu sekaligus sosial manusia. Peradaban mereka telah dibentuk oleh proses komunikasi panjang yang melibatkan perihal internal dan eksternal manusia.
Kini, seiring dengan perkembangan teknologi informasi, komunikasi antar persona tidak hanya terjadi sebatas tatap muka. Sekat- sekat pemisah telah dirobohkan. Salah satunya dengan bantuan media sosial. Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai, "sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0 dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content.”[i] Blog dan jejaring sosial (social network) ialah beberapa diantaranya.
Pertunjukan Sosialis oleh Media Baru
oleh Ningrum Budi Astuti
Kebangkitan dari sebuah negara dengan ideologi Pancasila dan berdasarkan pada Undang-Undang ini, memunculkan pemerintahan yang bernama Demokrasi. Perlu diketahui bahwa Demokrasi memihak pada tiga poin didalamnya. Yakni dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Semua titik utama pemerintahannya ada pada rakyat. Begitu juga dengan sebuah aksi sosial dalam pemerintahan ini. Banyak suara-suara bermunculan dalam aksi sosial tersebut untuk lebih didengar rintihannya, agar kepekaan petinggi-petinggi diluaran sana meningkat dan tentu saja agar suara hati pemimpinnya tidak memandang secara subjektif saja.
Netizen Santun, Cermin Bangsa yang Berpendidikan
oleh Pramudya Arif Dwijanarko
Kalau diperhatikan kini semakin banyak pengguna internet di Indonesia yang berusia muda. Mereka masih dalam tahap mengenal internet. Belum terlalu kenal etika berperilaku di internet. Mereka juga tidak tahu bahaya yang menanti mereka di internet. Mereka dengan gampang mem-blast pesan melalui BBM, YM, Facebook, milis, tanpa mengkonfirmasi keaslian sumber berita. Hal-hal seperti ini yang juga dikhawatirkan para ibu dengan anak mereka. Si Ibu sendiri mungkin tidak terlalu paham akan dunia internet, apalagi bila si Ibu adalah seorang perempuan aktif yang bekerja pula, sehingga agak sulit mengawasi aktivitas si anak dengan internet.
Ketika yang Muda Belajar Bertanggung jawab
oleh Puji Maharani
Pemuda dan media baru memiliki sebuah kesamaan: mereka sama-sama masih (berusia) muda. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan pemuda sebagai orang-orang yang berusia antara 15 hingga 24 tahun. Jika mengacu pada data World Health Organization tahun 2009, angka harapan hidup kita sebagai orang Indonesia rata-rata mencapai 68 tahun. Itu berarti, pemuda di Indonesia, yang lahir antara tahun 1986-1996, baru mencapai sekitar sepertiga umur mereka. Sementara itu, media baru, menurut Jan van Dijk, muncul pada 1980an. Bandingkan dengan surat kabar, yang pertama terbit dalam bahasa Jerman pada 1605; radio baru mengudara di Inggris pada 1897; atau bahkan televisi, yang baru eksis secara komersial pada akhir 1920an. Pemuda dan media baru bisa dikatakan lahir di generasi yang sama.
Situs Jejaring Sosial: Tong Sampah Keluh Kesah
oleh Raymon Tulus Yohannes
Hal apa yang paling menyebalkan ketika sedang menjelajah situs jejaring sosial? Bagi saya adalah ketika mendapati isinya penuh dengan ratapan atau maki-makian dari teman atau orang yang saya follow. Padahal kemarahan atau ratapan itu tidak ditujukan pada saya, tapi serta merta saya menggeser layar ke bawah lalu mengabaikannya. Bukannya saya tidak setia kawan namun saya rasa akan ada konsekuensi sendiri nanti bila saya ikut campur terlalu banyak dalam urusan yang seharusnya diselesaikan sendiri oleh teman-teman virtual saya itu.
Transformasi Jejaring Sosial ke Jejaring Perlawanan
oleh Jusman Dalle
Peran semerbak aroma secangkir kopi, teh atau susu yang beberapa waktu silam menjadi pembuka rutinitas dan menstimulasi mood kita untuk memulai aktifitas di pagi hari, kini telah diambil alih oleh seperangkat gadget yang menyediakan aplikasi jejaring sosial. Di zona baru, ketika dunia telah terkoneksi oleh kemajuan teknologi, ketika tembok-tembok dan jendela rumah kita runtuh dan disatukan oleh gelombang konvergensi, jaringan social media atau juga dikenal dengan nama new media (seperti Facebook, Blackberry Messanger, Blog dan Twitter) hadir sebagai kebutuhan baru.
Saatnya Menggugah Titik Jenuh:
Sebuah refleksi mengenai new media dan eksistensi generasi muda
oleh Shinta Ardhiyani
oleh Shinta Ardhiyani
Menilik sejenak 83 tahun yang telah lalu, di bulan yang sama dengan saat ini (Oktober.red) , tak kurang dari hitungan jari , sekelompok anak muda pernah tergugah dan berhasil menciptakan sejarah. Rangkaian frasa yang mereka kumandangkan pada Kongres Pemuda II ternyata menjadi sebuah inspirasi yang tak pernah mati bagi bangsa ini. Saat itu Muhammad Yamin cukup bernas menyampaikan arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Ia berkata bahwa ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum, adat, pendidikan, dan kemauan. Hingga pada penutup rapat berkumandanglah secarik deklarasi yang dikenal sebagai sumpah pemuda . Paduan kumandang sumpah itu memiliki notasi semangat yang alunannya bahkan menjadi trade mark semangat bagi generasi muda Indonesia hingga kini.
Zeitgeist itu Bernama Media Sosial
oleh Wisnu Prasetyo Utomo
Mark Zuckerberg barangkali tidak pernah mengira bahwa Facebook yang ia ciptakan akhir tahun 2003 akan mengubah total wajah hubungan sosial manusia. Apa yang ia lakukan pada mulanya hanya merupakan ekspresi kekecewaan terhadap lingkungan di sekitarnya. Mark adalah mahasiswa di Universitas Harvard yang anti-sosial, jarang bergaul dengan banyak orang, dan lebih sibuk menghabiskan waktu berjam-jam di depan komputernya. Sifat egosentrisme ini bahkan membuat sang pacar meninggalkannya.
Kegalauan Mark ternyata ia terjemahkan dalam cara yang luar biasa. Dampaknya tidak main-main. Facebook menjadi pondasi perubahan besar-besaran dalam hubungan antar manusia. Tidak hanya itu, Facebook dan media sosial lain seperti Twitter, blog, media online interaktif kemudian menjelma alat yang menginisiasi berbagai perubahan sosial politik di dunia. Sekadar mengambil contoh berbagai revolusi yang digalang media sosial; Orange revolution tahun 2004 di Ukraina, Revolusi Moldova 2009, Pergolakan pasca pemilu di Iran 2010, sampai revolusi di Mesir dan beberapa negara di Timur Tengah 2011.
CLOSED FOR SUBMISSION
pic: from http://www.google.co.id/images
WE REALLY APPRECIATE YOU, dear Indonesia Young Netizen!
Thank you for SUBMITTING in the IYND WRITING COMPETITION :)We already CLOSED the submission session, this October 15 2011.
283 essays were ACCEPTED :) Sure, the judges gonna working really hard for this!
Wait for the UPDATES yaaaa! October 19 will announce you, who are going to be TOP 20 ESSAY!
Stay there, stay a Responsible Netizen! :)
materi seminar IYND 2011
dear young netizen,
berikut materi dari para speaker seminar IYND 2011 yang bisa diunduh (dalam bentuk ppt):
1. Wisnu Martha (new media analyst)
Tema: "New Media and its Consequences"-->UNDUH
2. Enda Nasution (bapak blogger Indonesia/aktivis sosial media)
Tema: "How to be a Responsible-Social Media-Users"-->UNDUH
3. Iman Usman (president of Indonesian Future Leader/ IFL)
Tema: "how IFL use SocMed to Promote Social Change"-->UNDUH
4. Febry Fakhrurrizal (Bantu Indonesia/BI)
Tema: "how BI use SocMed to Promote Social Change"-->UNDUH
semoga bermanfaat :)
CHEERS,
IYND team
DAFTAR PESERTA IYND 2011
Inilah 103 orang yang TERPILIH sebagai peserta Indonesia Young Netizen Day 2011.
Konfirmasi juga akan kami lakukan via email dan SMS :)
Sekali lagi, SELAMAT! dan sampai jumpa di @america tanggal 1 Oktober 2011 ya!
Konfirmasi juga akan kami lakukan via email dan SMS :)
Sekali lagi, SELAMAT! dan sampai jumpa di @america tanggal 1 Oktober 2011 ya!
| No | Nama | Institusi |
| 1 | Abu Bakar Nazibulloh | SMAN 8 BANDUNG |
| 2 | Achmad Reza | UI |
| 3 | Adhi Muhammad | UIN GUNUNG JATI |
| 4 | Agne Yasa | UNPAD |
| 5 | Ahmad Muqorrobin | IPB |
| 6 | Ahmad Yusuf | Univ. Al Azhar |
| 7 | Aji Sakti Mardani | SMAN 8 BANDUNG |
| 8 | Aldi Ramadhika | ITB |
| 9 | Allysa Risnandyan | UI |
| 10 | Amanda Afiantari | Univ. Parahyangan |
| 11 | Andini Patricia | Univ. Padjajaran |
| 12 | Anju Christian Silaban | Univ. Padjajaran |
| 13 | Annisa | UIN GUNUNG JATI |
| 14 | Annisa Saptari | Univ. Padjajaran |
| 15 | Ashri Riswandi | Univ. Pamulang |
| 16 | Assumpta Hangganararas | SMAN 42 JAKARTA |
| 17 | Ayub Wahyudi | Univ. Paramadina |
| 18 | Bagus Dwi Cahyo | Univ. Padjajaran |
| 19 | Bob Adam Muttahara | UI |
| 20 | Cinta Septy Aulia | UNJ |
| 21 | Dani Budiawan | Univ. Padjajaran |
| 22 | Diana Siti R | Univ. Padjajaran |
| 23 | Dimas Arie Prasojo | |
| 24 | Dimas Dito | Univ. Padjajaran |
| 25 | Dina Oktaviana | SMKN 19 JAKARTA |
| 26 | Dody Iswandi | UGM |
| 27 | Dwi Wahyu Arif | UGM |
| 28 | Edo Saputra | Univ. Padjajaran |
| 29 | Egi Primayogha | Univ. Parahyangan |
| 30 | Eka Harumi Sediaswati | Univ. Padjajaran |
| 31 | Eka Purwita Sari | UIN GUNUNG JATI |
| 32 | Emil Yaditya | UGM |
| 33 | Fahri Somantri | SMAN 2 BANDUNG |
| 34 | Fahmy | ITB |
| 35 | Fani Fajrini | Univ. Padjajaran |
| 36 | Fatma Nurshuma | SMAN 42 JAKARTA |
| 37 | Fauzy Rachman | Univ. Bakrie |
| 38 | Febrina Zulmi | UNJ |
| 39 | Fidia Larakinanti | Univ. Paramadina |
| 40 | Florentina Panji Putri | Univ. Padjajaran |
| 41 | Galih Setiono | Univ. Padjajaran |
| 42 | Gamavianur N | Univ. Padjajaran |
| 43 | Gerry Sagala | Unika. Atmajaya |
| 44 | Gilang Anggriandika | Univ. Padjajaran |
| 45 | Hani Fauzia | Univ. Padjajaran |
| 46 | Hasrul Harahap | Pasca Sarjana UNJ |
| 47 | Hesti Nuraini | ITB |
| 48 | Ikrar Indah Mustika | Univ. Negeri Medan |
| 49 | Inda Astri Andini | Univ. Padjajaran |
| 50 | Indah Mutiara Kami | ITB |
| 51 | Indah Tri Novita | Univ. Padjajaran |
| 52 | Jannie Fahdiana | UNJ |
| 53 | Jonathan Christian S | LSPR |
| 54 | Karuniawati Astuti | UNJ |
| 55 | Katherine | Inti College Indonesia |
| 56 | Ken Andari | Univ. Padjajaran |
| 57 | Kesi Kurnia | Univ. Al Azhar |
| 58 | Khalil Ibrahim | UHAMKA |
| 59 | Kristina Sitohang | Univ. Padjajaran |
| 60 | Lailatul Mauliyah | UI |
| 61 | Larasati Jayani | Univ. Padjajaran |
| 62 | Lidya Natalia | Bina Nusantara |
| 63 | Lionita Irianti | ITB |
| 64 | Lisma Aisyatul | Univ. Padjajaran |
| 65 | M. Luqman bahar | Univ. Padjajaran |
| 66 | Martin | Univ. Padjajaran |
| 67 | Merry | Sampoerna School |
| 68 | Mirza Fahmi | Univ. Parahyangan |
| 69 | Muflih Fathoniawan | ITS |
| 70 | Mustafidz | UI |
| 71 | Nikita Dewayani | UI |
| 72 | Nindya Miesye | UI |
| 73 | Nissa Rachmidwiati | ITB |
| 74 | Nur Padhilah | UI |
| 75 | Prama Yudha Amdan | Univ. Padjajaran |
| 76 | Puji Maharani | Univ. Padjajaran |
| 77 | Puti Anggun Sari | Univ. Padjajaran |
| 78 | Raden Andika | Univ. Padjajaran |
| 79 | Reta Yudistiana | Univ. Padjajaran |
| 80 | Rezza Aji Pratama | UIN JAKARTA |
| 81 | Riana Puspitasari | UI |
| 82 | Rifqi Aditya | SMAN 8 BANDUNG |
| 83 | Rigina Handayani | SMAN 2 BANDUNG |
| 84 | Riksa Parikrama | ITB |
| 85 | Septya Anisa | Univ. Padjajaran |
| 86 | Setiti Mulyaningsih | Univ. Diponegoro |
| 87 | Siti Wulandari | Univ. Moestopo |
| 88 | Sofa Mariana N | Univ. Padjajaran |
| 89 | Suhervandri | Univ. Padjajaran |
| 90 | Sunarti Purnama Sari | Univ. Moestopo |
| 91 | T.Taufiq Lubis | Pasca Sarjana Trisakti |
| 92 | Taufik Nurhidayatulloh | SMAN 8 BANDUNG |
| 93 | Tegar Iman Susila | UNFPA YAP |
| 94 | Trianna | STBA LIA |
| 95 | Vanya Viranda | Univ. Padjajaran |
| 96 | Vera Apriani | LSPR |
| 97 | Vera Rakhmawati N | UI |
| 98 | Viona | LSPR |
| 99 | Wendi Wijarwadi | UIN JAKARTA |
| 100 | Yola Desnera Putri | Univ. Padjajaran |
| 101 | Yurike Puspita Arini | Univ. Padjajaran |
| 102 | Zakiah Rahayu | Univ. Padjajaran |
| 103 | Zico Ali Akbar | Univ. Moestopo |
get ready for IYND 2011!
Saturday, 1st October 2011
start 10 am
@america Pacific Place 3rd Floor
Jendral Sudirman Kav. 52-53, Kebayoran Baru
Jakarta Pusat
JOIN US?
Download the application form: HERE
Jendral Sudirman Kav. 52-53, Kebayoran Baru
Jakarta Pusat
JOIN US?
Download the application form: HERE
Langganan:
Postingan (Atom)



