Tampilkan postingan dengan label sosial media dan generasi muda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosial media dan generasi muda. Tampilkan semua postingan

Everybody is a Journalist in a Social Media

oleh Dwita Purnamasari



Bali diguncang gempa barusan..semoga baik-baik saja ya #pray for Bali
-salah satu bunyi status seorang teman di salah satu sosial media pada Kamis, 13 Oktober 2011 pukul 10.45 WIB, beberapa saat setelah gempa itu terjadi-

Bunyi status yang tertulis di atas dan senada dengan itu sering kali kita baca dalam sosial media, lalu secara naluriah kita pun akan memeprtanyakan kebenaran berita tersebut sehingga kemudian akan berusaha mencari informasi kebenaran berita tersebut baik melalui kerabat yang kemungkinan berada di Bali atau melalui portal-portal berita yang memang menyajikan berita secara aktual setiap detik (seperti yang dijanjikan oleh salah satu portal berita internet, detik.com). Setelah kebenaran atau secercah informasi berita kita dapat, untuk selanjutnya dapat ditebak kita pun akan meneruskan status tersebut mungkin dengan ditambah data yang lebih konkrit, misalnya “gempa Bali berkekuatan 6,8 SR” ataupun sekedar mengungkapkan rasa simpati atas peristiwa yang terjadi.

Social Media : Perluas Wawasan dan Hubungan

oleh Erny Prian Kusuma



Fenomena social media atau media sosial sungguh menarik dibicarakan saat ini. Perkembangan media sosial sudah tidak dapat dibendung. Pertumbuhan data pengguna social media seperti Facebook (FB), Twitter, dan Myspace di Indonesia sangat fenomenal. Khusus FB saja, per 5 April 2010 tercatat sekitar 21,5 juta akun yang berasal dari Indonesia. Indonesia menempati posisi ketiga di bawah AS dan Inggris. Sedangkan, Twitter sudah menembus angka 5 juta akun lebih. Indonesia juga menduduki jumlah pengguna Twitter terbesar di Asia. Jakarta ibukota negara Indonesia bahkan telah diklaim sebagai ibukota Tweet di Asia, bukan karena jumlah penggunanya tetapi juga kontribusi trending topic di Twitter dari Indonesia. 

Dua wajah jejaring sosial

oleh Fuad Hasan


“Siang malam ku selalu menatap layar terpaku, aku online... online.. aku online.. online,”. Pernahkah anda mendengarkan kutipan lirik tersebut? Itu adalah syair lagu “Online” yang dinyanyikan Saykoji, yang bercerita ketergantungan anak muda sekarang dengan dunia maya.

Korban teknologi, begitulah orang menyebut anak muda jaman sekarang. Hampir semua remaja di Indonesia mempunyai akun-akun jejaring sosial. Entah itu di friendster, facebook, myspace, twitter hingga yang terbaru, google+. Jejaring sosial pun mulai merasuki gaya hidup dewasa ini.

Sosial Media Jawaban Bagi Pers Mahasiswa

oleh Happy Ari Satyani



Media sebagai sarana komunikasi masyarakat mengambil peranan yang besar dalam tatanan suatu Negara. Bahkan perjuangan bangsa Indonesia tidak luput dari peran media. Perjuangan bangsa ini dikawal oleh media yang digawangi oleh generasi Muda, khususnya mahasiswa. Pers mahasiswa (Persma) diyakini sebagai ujung tombak perkembangan media di negeri Ini. Pers mahasiswa telah mengambil peran sebagai control social sejak jaman penjajahan. Sejak jaman perjuangan peran pers mahasiswa memang mengalami mengalami gelombang fluktuasi dan pasang surut. Masa kemenangan pers mahasiswa dipercayai ketika jaman perjuangan melawan penjajahan Belanda hingga era-1998 an. Setelah masa kemenangan berakhir media di dominasi oleh media arus utama, dan pers mahasiswa hanya berperan sebagai media alternative.

Dear Generasi Muda, Saatnya Meniti Kesuksesan lewat New Media!

oleh Grandika Septia Primadani


“ Sekarang tidak harus belajar lama untuk kemudian sukses. Yang penting kita konsisten berekspresi dengan apa yang kita sukai dalam media sosial “ (Raditya Dika)
Di zaman serba digital seperti sekarang, siapa anak muda yang tidak mengenal istilah internet, smartphone, ataupun piranti teknologi modern lainnya? Jika kalian adalah salah satu diantaranya, bisa jadi kalian adalah anak muda yang hidup di dalam peradaban digital, namun dibelenggu oleh dogma tradisional.
Kemudahan akses dan harga perangkat elektronik yang semakin terjangkau membuat semua kalangan mampu menjangkaunya, tak terkecuali anak muda. Smartphone yang dianggap sebagai barang mewah, kini sebagian kalangan justru menganggapnya sebagai barang wajib. Tak perlu khawatir dengan harga, cukup dengan merogoh kocek sebesar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta, smartphone sudah berada di genggaman mereka.

Penggunaan Social Media secara Efektif bagi Generasi Muda

oleh Khalil Ibrahim



Manusia merupakan mahluk sosial. Saya sangat hafal akan hal ini, karena ini adalah materi pelajaran PPKn ketika saya duduk di bangku Sekolah Dasar. Kurang lebih artinya bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Karena itu, manusia dituntut untuk saling berkomunikasi, berinteraksi, berbagi informasi, dan berkolaborasi satu sama lain.

Zaman semakin berkembang dimana teknologi informatika dan internet berhasil menyulap kita, generasi muda, menjadi sosok mahluk sosial yang berbeda. Sekarang kita bisa dengan mudah berinteraksi dengan orang lain secara online tanpa harus bertatap muka, melalui situs-situs yang dikenal dengan istilah Social Media.

Agent of Change 2.0

oleh M. Misbahul Ulum


Manusia terlahir sebagai makhluk sosial. Oleh sebab itulah, komunikasi menjadi kebutuhan mutlak bagi mereka. Komunikasi mengukuhkan jati diri individu sekaligus sosial manusia. Peradaban mereka telah dibentuk oleh proses komunikasi panjang yang melibatkan perihal internal dan eksternal manusia.

Kini, seiring dengan perkembangan teknologi informasi, komunikasi antar persona tidak hanya terjadi sebatas tatap muka. Sekat- sekat pemisah telah dirobohkan. Salah satunya dengan bantuan media sosial. Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai, "sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0  dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content.”[i] Blog dan jejaring sosial (social network) ialah beberapa diantaranya.

Transformasi Jejaring Sosial ke Jejaring Perlawanan

oleh Jusman Dalle


Peran semerbak aroma secangkir kopi, teh atau susu yang beberapa waktu silam menjadi pembuka rutinitas dan menstimulasi mood kita untuk memulai aktifitas di pagi hari, kini telah diambil alih oleh seperangkat gadget yang menyediakan aplikasi jejaring sosial. Di zona baru, ketika dunia telah terkoneksi oleh kemajuan teknologi, ketika tembok-tembok dan jendela rumah kita runtuh dan disatukan oleh gelombang konvergensi, jaringan social media atau juga dikenal dengan nama new media (seperti Facebook, Blackberry Messanger, Blog dan Twitter) hadir sebagai kebutuhan baru.

Saatnya Menggugah Titik Jenuh:

Sebuah refleksi mengenai new media dan eksistensi generasi muda


oleh Shinta Ardhiyani

Menilik sejenak 83 tahun yang telah lalu, di bulan yang sama dengan saat ini (Oktober.red) , tak kurang dari hitungan jari , sekelompok anak muda pernah tergugah dan berhasil menciptakan sejarah. Rangkaian frasa yang mereka kumandangkan pada Kongres Pemuda II ternyata menjadi sebuah inspirasi yang tak pernah mati bagi bangsa ini. Saat itu Muhammad Yamin cukup bernas menyampaikan arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Ia berkata bahwa ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum, adat, pendidikan, dan kemauan. Hingga pada penutup rapat berkumandanglah secarik deklarasi yang dikenal sebagai sumpah pemuda . Paduan kumandang sumpah itu memiliki notasi semangat yang alunannya bahkan menjadi trade mark semangat bagi generasi muda Indonesia hingga kini.