Tampilkan postingan dengan label 20 karya terbaik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 20 karya terbaik. Tampilkan semua postingan

KRITERIA PENJURIAN

Hey Young Netizen,
thanks utk semua feedback yang diberikan pada team IYND!

Pada posting ini kami ingin DECLARE tentang kriteria penjurian yang dilakukan IYND.


No
Kriteria Penilaian
Parameter Penilaian
1
Format tulisan
  • Tata tulis: kesesuaian dan ketepatan jumlah kata yang dibutuhkan sebagai persyaratan (1000-1200 kata)
  • Penyajian: Ragam bahasa, ketepatan dan kejelasan ungkapan sesuai (EYD)


2
Kreativitas dan inovasi topik/ gagasan
  • Relevansi topik yang dipilih dengan isi karya tulis
  • Kejelasan pengungkapan ide, sistematika pengungkapan ide
  • Keunikan dan keaktualitasan topik dan fokus bahasan


3
Kebermanfaatan/ kontribusi
  • Nilai tambah keilmuan
  • Nilai tambah dalam pemecahan masalah
  • Kemampuan memprediksi dan mentransfer gagasan


4
Data dan sumber Informasi
  • Relevansi data dan informasi yang diacu
  • Keakuratan data dan informasi
  • Kemampuan menghubungkan berbagi data dan informasi



Semoga menjadi pembelajaran bagi teman2 yang belum berkesempatan menjadi winner IYND Writing Competition! Keep the spirit up!

here they are, top 20 IYND's Writing Competition!

dear Netizen,

setelah melewati proses seleksi yang cukup ketat, akhirnya dengan bangga kami umumkan 20 karya terbaik pilihan tim IYND. Keduapuluh karya ini telah berhasil menyisihkan 279 naskah yang masuk ke meja tim IYND Writing Competition 2011.

Everybody is a Journalist in a Social Media

oleh Dwita Purnamasari



Bali diguncang gempa barusan..semoga baik-baik saja ya #pray for Bali
-salah satu bunyi status seorang teman di salah satu sosial media pada Kamis, 13 Oktober 2011 pukul 10.45 WIB, beberapa saat setelah gempa itu terjadi-

Bunyi status yang tertulis di atas dan senada dengan itu sering kali kita baca dalam sosial media, lalu secara naluriah kita pun akan memeprtanyakan kebenaran berita tersebut sehingga kemudian akan berusaha mencari informasi kebenaran berita tersebut baik melalui kerabat yang kemungkinan berada di Bali atau melalui portal-portal berita yang memang menyajikan berita secara aktual setiap detik (seperti yang dijanjikan oleh salah satu portal berita internet, detik.com). Setelah kebenaran atau secercah informasi berita kita dapat, untuk selanjutnya dapat ditebak kita pun akan meneruskan status tersebut mungkin dengan ditambah data yang lebih konkrit, misalnya “gempa Bali berkekuatan 6,8 SR” ataupun sekedar mengungkapkan rasa simpati atas peristiwa yang terjadi.

Social Media : Perluas Wawasan dan Hubungan

oleh Erny Prian Kusuma



Fenomena social media atau media sosial sungguh menarik dibicarakan saat ini. Perkembangan media sosial sudah tidak dapat dibendung. Pertumbuhan data pengguna social media seperti Facebook (FB), Twitter, dan Myspace di Indonesia sangat fenomenal. Khusus FB saja, per 5 April 2010 tercatat sekitar 21,5 juta akun yang berasal dari Indonesia. Indonesia menempati posisi ketiga di bawah AS dan Inggris. Sedangkan, Twitter sudah menembus angka 5 juta akun lebih. Indonesia juga menduduki jumlah pengguna Twitter terbesar di Asia. Jakarta ibukota negara Indonesia bahkan telah diklaim sebagai ibukota Tweet di Asia, bukan karena jumlah penggunanya tetapi juga kontribusi trending topic di Twitter dari Indonesia. 

Media yang Membawa Kita atau Kita yang Membawa Media

oleh Epson Ray Kinko



Pernahkah kita memikirkan bagaimana hidup manusia berubah sedikit demi sedikit akibat dari adanya media yang berkembang pesat? Pemanfaatan media baru/ teknologi adalah penting untuk masyarakat, terlebih di negara yang sedang berkembang. Walaupun begitu, seiring dengan berkembangnya teknologi dalam masyarakat, banyak sisi baik dan buruk yang dapat muncul dari kemajuannya. Imbas dari perkembangan media itu sendiri tidak muncul secara tiba–tiba di depan kita. Dia muncul perlahan-lahan sehingga kita pun tidak dapat langsung menolak atau menerima media–media yang muncul.

Reinkarnasi Media Seni dan Internet

oleh Farhani Kautsar Nugraha



 John Lennon, seorang tokoh dunia, musisi, penulis, sekaligus aktivis perdamaian. Anggota sekaligus pendiri grup band The Beatles ini, mulai memberi pengaruh mengenai perdamaian dan aksi-aksi sosial saat sudah mulai bersolo karier. Sekitar dua juta orang Vietnam meninggal saat konflik perang Vietnam. Banyak yang memprotes perang ini. Vietnam bukanlah perang yang mudah diterima masyarakat, karena tak ada tujuan yang nyata disana. Tidak menunjukkan kehidupan, kebebasan, dan kebahagiaan. Saat itu protes semakin meluas dipimpin oleh anak-anak muda dan protes ini meluas dimana-mana. Protes terakhir di London, ribuan warga menolak Inggris memberikan bantuan untuk aksi Amerika Serikat di Vietnam. Ketika situsi seperti ini, John Lennon mulai turut campur berhubungan dengan dunia dan dia merubah dunia.

Dua wajah jejaring sosial

oleh Fuad Hasan


“Siang malam ku selalu menatap layar terpaku, aku online... online.. aku online.. online,”. Pernahkah anda mendengarkan kutipan lirik tersebut? Itu adalah syair lagu “Online” yang dinyanyikan Saykoji, yang bercerita ketergantungan anak muda sekarang dengan dunia maya.

Korban teknologi, begitulah orang menyebut anak muda jaman sekarang. Hampir semua remaja di Indonesia mempunyai akun-akun jejaring sosial. Entah itu di friendster, facebook, myspace, twitter hingga yang terbaru, google+. Jejaring sosial pun mulai merasuki gaya hidup dewasa ini.

Sosial Media Jawaban Bagi Pers Mahasiswa

oleh Happy Ari Satyani



Media sebagai sarana komunikasi masyarakat mengambil peranan yang besar dalam tatanan suatu Negara. Bahkan perjuangan bangsa Indonesia tidak luput dari peran media. Perjuangan bangsa ini dikawal oleh media yang digawangi oleh generasi Muda, khususnya mahasiswa. Pers mahasiswa (Persma) diyakini sebagai ujung tombak perkembangan media di negeri Ini. Pers mahasiswa telah mengambil peran sebagai control social sejak jaman penjajahan. Sejak jaman perjuangan peran pers mahasiswa memang mengalami mengalami gelombang fluktuasi dan pasang surut. Masa kemenangan pers mahasiswa dipercayai ketika jaman perjuangan melawan penjajahan Belanda hingga era-1998 an. Setelah masa kemenangan berakhir media di dominasi oleh media arus utama, dan pers mahasiswa hanya berperan sebagai media alternative.

Dear Generasi Muda, Saatnya Meniti Kesuksesan lewat New Media!

oleh Grandika Septia Primadani


“ Sekarang tidak harus belajar lama untuk kemudian sukses. Yang penting kita konsisten berekspresi dengan apa yang kita sukai dalam media sosial “ (Raditya Dika)
Di zaman serba digital seperti sekarang, siapa anak muda yang tidak mengenal istilah internet, smartphone, ataupun piranti teknologi modern lainnya? Jika kalian adalah salah satu diantaranya, bisa jadi kalian adalah anak muda yang hidup di dalam peradaban digital, namun dibelenggu oleh dogma tradisional.
Kemudahan akses dan harga perangkat elektronik yang semakin terjangkau membuat semua kalangan mampu menjangkaunya, tak terkecuali anak muda. Smartphone yang dianggap sebagai barang mewah, kini sebagian kalangan justru menganggapnya sebagai barang wajib. Tak perlu khawatir dengan harga, cukup dengan merogoh kocek sebesar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta, smartphone sudah berada di genggaman mereka.

Penggunaan Social Media secara Efektif bagi Generasi Muda

oleh Khalil Ibrahim



Manusia merupakan mahluk sosial. Saya sangat hafal akan hal ini, karena ini adalah materi pelajaran PPKn ketika saya duduk di bangku Sekolah Dasar. Kurang lebih artinya bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Karena itu, manusia dituntut untuk saling berkomunikasi, berinteraksi, berbagi informasi, dan berkolaborasi satu sama lain.

Zaman semakin berkembang dimana teknologi informatika dan internet berhasil menyulap kita, generasi muda, menjadi sosok mahluk sosial yang berbeda. Sekarang kita bisa dengan mudah berinteraksi dengan orang lain secara online tanpa harus bertatap muka, melalui situs-situs yang dikenal dengan istilah Social Media.

ETIKA PARA NETIZEN

oleh Lukman Hakim Husna


Ia duduk di sana beberapa saat sebelum peristiwa itu. Terpacak di depan kotak gelas berukuran empat belas inchi, di sebuah warung internet di seputaran kota Solo, ia terlihat gusar. Layar monitor di hadapannya menyuguhkan rerupa menu maya. Konon, sebelum detik yang telah ditentukan, ia sempat membuka beberapa alamat web. Diantaranya laman balapan motor dan –tentu saja– sebuah situs keagamaan tertentu yang diduga telah menyuguhkan suntikan-suntikan ideologis; sentimen yang membabi buta terhadap apa yang mereka sebut sebagai kafir.

Dunia Maya, Paradigma Baru Menggalang Aksi Sosial

oleh Muhammad Faisal Harahap



Kalau kita cermati hingga tahun 2011 ini, pengguna internet di Indonesia dalam waktu yang relatif singkat langsung meledak pertumbuhannya. Data yang dirilis Kementerian Komunikasi dan Informatika baru-baru ini menunjukkan bahwa jumlah penggunanya sudah mencapai 45 juta orang. Angka ini sudah termasuk pengguna melalui internet mobile (handphone) dan personal computer (PC). Padahal, pada tahun 1999 jumlah pengguna internet di Indonesia masih ada di angka 1 juta orang. Sungguh, meningkatnya jumlah pengguna internet ini selayaknya patut menjadi perhatian bagi rakyat Indonesia yang berjumlah 240 juta jiwa. Kenapa tidak? Internet dengan pelbagai perangkat dan kecanggihannya-disadari atau tidak telah menjadi media baru dalam penyampaian pesan, gagasan, atau informasi yang ditujukan kepada orang banyak (massa).

Netizen, New Media dan Gerakan Sosial Menolak Kebisuan

oleh Muhamad Ismaiel



Kerja jurnalistik, kadang menyimpan paradoks dalam dirinya. Sekalipun pandai menangkap realitas, kerja jurnalistik selalu saja tak kuasa menyembunyikan fakta. Lewat Wikileaks—sebuah lembaga layanan publik yang dirancang untuk membocorkan dokumen rahasia atau kawat diplomatik—kita dapat menemukan kondisi seperti itu. Setelah ribuan dokumen rahasia Amerika terkait dengan perang Afganistan dan Irak berhasil dibocorkan oleh Wikileaks, dunia tiba-tiba menjadi paham tentang duduk persoalan sebenarnya. Bahwa, betapa politik yang dijalankan Amerika begitu sangat kotor, jauh dari kejujuran. Sementara itu, banyak media arus utama tak pernah memberikan informasi yang lengkap dan benar. Sehingga masyarakat dunia selama ini hidup di tengah kebohongan cukup lama.  

Agent of Change 2.0

oleh M. Misbahul Ulum


Manusia terlahir sebagai makhluk sosial. Oleh sebab itulah, komunikasi menjadi kebutuhan mutlak bagi mereka. Komunikasi mengukuhkan jati diri individu sekaligus sosial manusia. Peradaban mereka telah dibentuk oleh proses komunikasi panjang yang melibatkan perihal internal dan eksternal manusia.

Kini, seiring dengan perkembangan teknologi informasi, komunikasi antar persona tidak hanya terjadi sebatas tatap muka. Sekat- sekat pemisah telah dirobohkan. Salah satunya dengan bantuan media sosial. Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai, "sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0  dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content.”[i] Blog dan jejaring sosial (social network) ialah beberapa diantaranya.

Pertunjukan Sosialis oleh Media Baru

oleh Ningrum Budi Astuti

Kebangkitan dari sebuah negara dengan ideologi Pancasila dan berdasarkan pada Undang-Undang ini, memunculkan pemerintahan yang bernama Demokrasi. Perlu diketahui bahwa Demokrasi memihak pada tiga poin didalamnya. Yakni dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Semua titik utama pemerintahannya ada pada rakyat. Begitu juga dengan sebuah aksi sosial dalam pemerintahan ini. Banyak suara-suara bermunculan dalam aksi sosial tersebut untuk lebih didengar rintihannya, agar kepekaan petinggi-petinggi diluaran sana meningkat dan tentu saja agar suara hati pemimpinnya tidak memandang secara subjektif saja.

Netizen Santun, Cermin Bangsa yang Berpendidikan

oleh Pramudya Arif Dwijanarko



Kalau diperhatikan kini semakin banyak pengguna internet di Indonesia yang berusia muda. Mereka masih dalam tahap mengenal internet. Belum terlalu kenal etika berperilaku di internet. Mereka juga tidak tahu bahaya yang menanti mereka di internet. Mereka dengan gampang mem-blast pesan melalui BBM, YM, Facebook, milis, tanpa mengkonfirmasi keaslian sumber berita. Hal-hal seperti ini yang juga dikhawatirkan para ibu dengan anak mereka. Si Ibu sendiri mungkin tidak terlalu paham akan dunia internet, apalagi bila si Ibu adalah seorang perempuan aktif yang bekerja pula, sehingga agak sulit mengawasi aktivitas si anak dengan internet.

Ketika yang Muda Belajar Bertanggung jawab

oleh Puji Maharani

Pemuda dan media baru memiliki sebuah kesamaan: mereka sama-sama masih (berusia) muda. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan pemuda sebagai orang-orang yang berusia antara 15 hingga 24 tahun. Jika mengacu pada data World Health Organization tahun 2009, angka harapan hidup kita sebagai orang Indonesia rata-rata mencapai 68 tahun. Itu berarti, pemuda di Indonesia, yang lahir antara tahun 1986-1996, baru mencapai sekitar sepertiga umur mereka. Sementara itu, media baru, menurut Jan van Dijk, muncul pada 1980an. Bandingkan dengan surat kabar, yang pertama terbit dalam bahasa Jerman pada 1605; radio baru mengudara di Inggris pada 1897; atau bahkan televisi, yang baru eksis secara komersial pada akhir 1920an. Pemuda dan media baru bisa dikatakan lahir di generasi yang sama.

Situs Jejaring Sosial: Tong Sampah Keluh Kesah

oleh Raymon Tulus Yohannes

Hal apa yang paling menyebalkan ketika sedang menjelajah situs jejaring sosial? Bagi saya adalah ketika mendapati isinya penuh dengan ratapan atau maki-makian dari teman atau orang yang saya follow. Padahal kemarahan atau ratapan itu tidak ditujukan pada saya, tapi serta merta saya menggeser layar ke bawah lalu mengabaikannya. Bukannya saya tidak setia kawan namun saya rasa akan ada konsekuensi sendiri nanti bila saya ikut campur terlalu banyak dalam urusan yang seharusnya diselesaikan sendiri oleh teman-teman virtual saya itu. 

Transformasi Jejaring Sosial ke Jejaring Perlawanan

oleh Jusman Dalle


Peran semerbak aroma secangkir kopi, teh atau susu yang beberapa waktu silam menjadi pembuka rutinitas dan menstimulasi mood kita untuk memulai aktifitas di pagi hari, kini telah diambil alih oleh seperangkat gadget yang menyediakan aplikasi jejaring sosial. Di zona baru, ketika dunia telah terkoneksi oleh kemajuan teknologi, ketika tembok-tembok dan jendela rumah kita runtuh dan disatukan oleh gelombang konvergensi, jaringan social media atau juga dikenal dengan nama new media (seperti Facebook, Blackberry Messanger, Blog dan Twitter) hadir sebagai kebutuhan baru.

Saatnya Menggugah Titik Jenuh:

Sebuah refleksi mengenai new media dan eksistensi generasi muda


oleh Shinta Ardhiyani

Menilik sejenak 83 tahun yang telah lalu, di bulan yang sama dengan saat ini (Oktober.red) , tak kurang dari hitungan jari , sekelompok anak muda pernah tergugah dan berhasil menciptakan sejarah. Rangkaian frasa yang mereka kumandangkan pada Kongres Pemuda II ternyata menjadi sebuah inspirasi yang tak pernah mati bagi bangsa ini. Saat itu Muhammad Yamin cukup bernas menyampaikan arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Ia berkata bahwa ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum, adat, pendidikan, dan kemauan. Hingga pada penutup rapat berkumandanglah secarik deklarasi yang dikenal sebagai sumpah pemuda . Paduan kumandang sumpah itu memiliki notasi semangat yang alunannya bahkan menjadi trade mark semangat bagi generasi muda Indonesia hingga kini.